Category Archives: Serba Serbi

AK Tak Sempat Biayai Pernikahan Adiknya

Ada cerita mengharukan sebelum Achmad Kurniawan meninggal dunia. Kiper Arema FC itu sempat berjanji ikut membiayai pernikahan dan menghadiri hari istimewa sang adik yang bernama Kurnia Rianti.

“Dua hari sebelum masuk rumah sakit, AK bilang mau bantuin biaya pernikahan adiknya, Kurnia Ade Riyanti. Katanya dia ajak kita belanja-belanja,” ujar ibunda AK, Maryani di rumah duka di Jalan H.Moong, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Rabu (11/1/2017).

“Tidak tahunya malah seperti ini. Dia malah masuk rumah sakit. Uangnya malah dipakai untuk biaya berobat dia,” sambungnya.

Maryani mengaku AK adalah sosok yang sangat loyal terhadap keluarga. Bahkan, kiper berusia 37 tahun itu menjadi tulang punggung menggantikan sang ayah yang telah meninggal dunia berapa tahun yang lalu.

“Dia itu kepala keluarga di sini karena suami saya sudah meninggal,” katanya pelan.

AK meninggal dunia pada 10 Januari 2017 setelah kritis lebih dari sepekan di Rumah Sakit Saiful Anwar, Malang. Jenazah rencananya akan dimakamkan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kalisari, Cijantung, Jakarta Timur, Rabu (11/1) hari ini.

Published by:

Young: Medali Juara Saya Dicuri Rojo!

Bek Manchester United, Ashley Young, mengungkap bagaimana rekan setimnya, Marcos Rojo, mencuri medali kemenangannya di Piala FA.

Young masuk sebagai pengganti di babak kedua ketika tim asuhan Louis van Gaal menang atas Crystal Palace di final 2016 lalu.

Pemain berusia 31 tahun ikut membantu tim memenangkan gelar juara, yang sekaligus menjadi trofi perdananya di ajang yang disebut merupakan tertua di Inggris.

Namun Young mengaku kaget usai medali juaranya tidak ada lagi di ruang ganti, begitu ia menyelesaikan tes doping usai pertandingan.

“Saya pergi dan melakukan uji doping dan kembali, lalu medali itu hilang. Saya ingat Marcos Rojo duduk dekat saya, namun saat itu saya tidak sadar ke mana hilangnya medali itu,” tutur Young di MEN.

“Apa di bawah? Di atas? Di atas tumpukan pakaian? Saya tak bisa menemukannya. Saya kemudian hanya berpikir ‘Oke, nanti akan ketemu sendiri’. Namun ketika saya ada di bus, medali itu masih belum ditemukan.”

“Jadi saya bertanya pada semua pemain apakah medali mereka dobel, karena pasti ada yang punya dua medali. Kami sedang meninggalkan stadion, ketika saya mendengar suara dari belakang: ‘Saya punya dua medali di sini’. Itu Marcos Rojo.”

“Dia mengambil milik saya, memasukkannya ke dalam tas perlengkapannya, dan kemudian memasukkan miliknya sendiri ke dalam tasnya juga.”

Published by:

Rayakan Malam Tahun Baru, Beckham Ajak Ribut Eks Bos F1

Eks kapten Timnas Inggris, David Beckham dikabarkan terlibat keributan dengan mantan bos Formula 1, Ron Dennis ketika tengah merayakan malam tahun baru di resort mewah One & Only Reeti Rah di Maladewa.

Dilansir The Sun, keributan bermula ketika Dennis tiba-tiba duduk di sebuah kursi yang sudah dipesan terlebih dulu oleh Beckham. Dennis beralasan ia membayar paling besar di pulau tersebut, jadi punya kebebasan memilih kursi.

Tak terima dengan tingkah dan alasan tersebut, Becks pun langsung mengajak ribut Dennis. Keduanya pun disebut saling bertukar makian.

Meski demikian, pertikaian Beckham dan Dennis akhirnya mereka pada keesokan harinya. Dennis diyakini menghampiri keluarga Beckham untuk meminta maaf.

Beckham merayakan pergantian tahun di Maladewa bersama keluarganya, yakni sang istri Victoria serta keempat buah hatinya, Brooklyn, Cruz, Romeo dan Harper.

Published by:

Waria Ini Mengaku Pernah Kencan dengan Bintang Milan

Sebuah pernyataan mencengangkan dikeluarkan oleh seorang model transeksual bernama Guendalina Rodriguez yang mengaku pernah berkencan dengan seorang bintang sepakbola AC Milan.

Meski demikian, Guendalina menolak mengungkapkan nama pemain Rossoneri tersebut ke publik karena takut dirinya akan dituntut.

“Saya bertemu beberapa pemain AC Milan. Namun, saya tidak akan menyebut nama, karena saya tidak ingin digugat,” ujar Rodriguez kepada radio Italia beberapa waktu lalu seperti dilansir Sportsmole.

“Dia berkata, jika saya menyebut namanya ke publik, kariernya akan berakhir. Dia sangat aktif dan ‘berbakat’. Saya beberapa kali kencan dengannya,” lanjutnya.

Beberapa waktu lalu Guendalina dikabarkan mengungkap nama pemain Milan itu lewat akun Twiter pribadinya, meski tak lama kemudian dihapus.

Di kalangan media, beredar kabar yang menyebut nama pemain yang dimaksud Guendalina adalah bomber M’Baye Niang.

Published by:

Masih Adakah Cristiano Ronaldo Vs. Lionel Messi Di 2017?

Sejak Ballon d’Or 2008 dimenangkan oleh Cristiano Ronaldo, gelar pesepakbola terhebat sejagad menjadi duopoli bintang Portugal tersebut dan Lionel Messi. Messi untuk sementara unggul atas Ronaldo dinilai dari jumlah koleksi penghargaan individual tersebut. La Pulga sudah mengemas lima penghargaan, sementara Ronaldo empat.

Walau begitu, 2016 dikuasai sepenuhnya oleh Cristiano Ronaldo. Megabintang Real Madrid itu memenangkan deretan gelar bergengsi baik di level klub maupun internasional. Kiprahnya dimulai dari juara Liga Champions, Euro 2016, hingga Piala Dunia Antarklub. Performa menakjubkan itulah yang membuatnya pantas dianugerahi Ballon d’Or tahun ini.

Perdebatan tentang pesepakbola terbaik sejagad memang masih berlanjut hingga saat ini, namun akankah perdebatan yang sama bertahan hingga akhir 2017? Mampukah dua makhluk terhebat dunia sepakbola itu mempertahankan performa fenomenalnya di lapangan hijau? Goal Indonesia coba menyajikan jawaban untuk pertanyaan yang sulit itu …

Ketika melihat Messi yang sangat fantastis di 2015, mungkin penggemar sepakbola berpendapat La Pulga takkan pernah berhenti mendominasi bumi sepakbola. La Pulga meraih lima gelar bersama Barcelona sepanjang kalender tersebut dan menutup aksinya dengan penghargaan Ballon d’Or.

Adapun sepandai-pandainya Messi menggocek, akhirnya jatuh juga. Bintang Argentina itu didera kelelahan dan sempat kehilangan performa terbaiknya di pengujung musim 2015/16. Blaugrana mengalami rangkaian inkonsistensi di La Liga, bahkan tersingkir di Liga Champions. Beruntung, Luis Suarez menutup lubang yang ditinggal Messi ketika cedera sehingga Blaugrana berhasil memenangkan La Liga dan Copa del Rey lewat selisih tipis dengan Real Madrid.

Penurunan performa La Pulga itu terpampang jelas pada statistiknya selama 2015/16. Messi mencetak 41 gol dan 23 assist selama periode tersebut. Walau bisa dianggap istimewa, catatan tersebut merupakan yang terburuk kedua untuk Messi dalam tujuh musim terakhirnya – catatan terburuknya terjadi di musim 2013/14 dengan 41 gol dan 14 assist plus satu gelar Piala Super Spanyol.

Catatan tersebut disambung dengan petaka lain di level internasional. Messi boleh saja membawa Argentina ke final Copa America Centenario, tapi La Pulga masih harus puasa gelar internasional. Argentina takluk dari Cile dalam babak adu penalti dan Messi menjadi salah satu penggawa Albiceleste yang gagal mengeksekusi penaltinya.

Air mata mewarnai kegagalan Messi di Copa America dan secara emosional, sang legenda memutuskan gantung sepatu dari timnasnya. Untung saja publik Argentina mampu meyakinkan legendanya untuk kembali bermain. Dengan penampilan baru – rambut pirangnya – Messi kembali untuk memenuhi ambisinya juara bersama Argentina.

Tentu saja untuk kembali ke performa terbaik, langkah Messi tidak mudah. Secara individual, Messi masih brilian di awal musim 2016/17. Suami dari Antonella Rocuzzo itu sudah mencatatkan 23 gol dan tujuh assist dalam 20 pertandingan di semua kompetisi bersama Barcelona. Hanya saja, Real Madrid membuat persaingan di La Liga menjadi sulit – El Real memaksa Barca tertinggal tiga poin di peringkat kedua klasemen La Liga Spanyol.

Musim memang masih panjang. Melihat performa La Pulga di pengujung 2016, tampaknya memang belum ada tanda-tanda dirinya bakal keluar dari perebutan gelar pesepakbola terbaik sejagad. Adapun Ronaldo yang menjadi rival pribadinya sedang naik daun bersama El Real. Meskipun Ronaldo sudah menginjak kepala tiga, bisa dibilang performanya justru meningkat – sementara Messi harus berhati-hati dengan inkonsistensi yang kerap menghantui Blaugrana di awal tahun.

Sementara itu pada awalnya bakal sulit bagi siapapun memprediksi musim 2015/16 menjadi milik Cristiano Ronaldo di level klub maupun internasional.

Real Madrid sempat dihajar pergantian pelatih dari Rafael Benitez ke Zinedine Zidane namun bersama Cristiano Ronaldo Los Blancos berhasil mengangkat trofi Liga Champions dan duduk di peringkat kedua klasemen akhir La Liga terpaut satu poin dari Barcelona. Kisah indah Cristiano berlanjut di level internasional bersama Portugal pada gelaran Euro 2016 musim panas lalu. Selecao yang tidak pernah menang di babak grup lolos ke fase gugur sebagai peringkat ketiga terbaik dan terus melaju ke partai final.

Di partai puncak Cristiano hanya tampil 17 menit sebelum ditabrak Dmitri Payet dan mengalami cedera namun dengan kaki yang dibebat dia terus menyatukan jiwanya bersama rekan satu tim dengan memberi semangat pada di sisi lapangan yang kemudian berbuah trofi bergengsi berkat gol Eder.

35 gol di La Liga, 16 di Liga Champions plus kontribusi tiga gol di Prancis yang dilengkapi dua trofi memang membuat langkah Cristiano Ronaldo tak bisa dihentikan menuju Ballon d’Or 2 tetapi apakah musim sekarang tetap milik sang superstar? Besar kemungkinan demikian.

Penambahan koleksi trofi dimulai lagi di Jepang Desember lalu saat El Real mematahkan perlawanan keras Kashima Antlers dengan skor 4-2 melalui babak tambahan waktu. Siapa lagi kalau bukan Cristiano yang jadi pahlawan tim pada pertandingan tersebut dengan hat-tricknya.

Seperti yang sudah ditegaskan Zinedine Zidane di awal musim, ambisi nomor satu mereka sekarang adalah mematahkan dominasi Barcelona di La Liga. Meski demikian harapan berjaya di Copa del Rey dan tentu saja Liga Champions tidak bisa diabaikan oleh tim sekelas Madrid apalagi Cristiano belum kehabisan motivasi.

Memang benar, banyak pihak menilai performa Cristiano tengah menurun namun Diego Maradona pun masih meyakini sang superstar bakal kembali ke performa terbaik. Satu hal lagi yang tidak bisa dilupakan, semangat kompetitifnya sungguh luar biasa karena sejarah selalu mencatat, ketika diragukan Cristiano selalu bisa menyuguhkan jawaban untuk membungkam para peragu.

Published by:

Turki Diserang Teroris di Malam Tahun Baru, Arda Turan Berduka

Bintang Barcelona, Arda Turan menyampaikan belasungkawa atas tragedi serangan teroris yang mengguncang negara asalnya, Turki di malam tahun baru kemarin.

Setidaknya 39 orang tewas usai seorang pria bersenjata dengan membabi buta menembaki pengunjung sebuah klub malam di wilayah Ortakoy, Istanbul semalam.

Belum lama ini Turki juga diguncang tragedi pengeboman yang terjadi di luar markas Besiktas. Serangan ini menewaskan 44 orang. Meski bersedih, Turan menyatakan Turki tak akan kala dari terorisme.

“Ya, kami menderita, tapi kami akan bersama, berdiri sebagai satu kesatuan dan kami tak akan membiarkan terorisme menang. Saya turut berbelasungkawa untukmu, Turki,” demikian kicauan Turan di akun Twitter pribadinya.

Follow
Arda Turan ✔ @ArdaTuran
Canımız yanıyor evet ama birleşeceğiz, kenetlenip tek yürek olup teröre geçit vermeyeceğiz. Başın sağolsun Türkiyem…
4:43 PM – 1 Jan 2017
2,159 2,159 Retweets 10,443 10,443 likes

Tak hanya Turan, klub-klub Turki seperti Galatasaray, Fenerbahce hingga Besiktas pun turut mengeluarkan pernyataaan mengecam serangan teroris ini.

Published by:

Sejarah Hari Ini (28 Desember): Gol Telat Le Cong Vinh Pastikan Gelar Juara Piala AFF Pertama Vietnam

Pada 28 Desember 2008 penyerang muda Vietnam kala itu Le Cong Vinh menjadi bintang setelah mencetak gol penyeimbang ke gawang Thailand saat laga final leg kedua AFF Suzuki Cup yang berlangsung di My Dinh National Stadium, Hanoi, memasuki menit ke-90+4.

Itu menjadi puncak prestasi bagi Cong Vinh di turnamen terakbar Asia Tenggara, ia telah memutuskan pensiun dari timnas setelah Vietnam disingkirkan oleh Indonesia di semi-final AFF Suzuki Cup 2016.

INI MOMEN PENTING KARENA…

Gol dramatis penyerang yang kala itu masih berusia 22 tahun tersebut membawa tim nasional Vietnam mencatatkan sejarah setelah berhasil meraih gelar juara Piala AFF untuk pertama kalinya.

AFF Suzuki Cup kembali digelar di tahun genap setelah sempat dihelat pada 2007. Di penyelenggaraan 2008, Indonesia dan Thailand bertindak sebagai tuan rumah di fase grup.

Kejuaraan antarnegara Asia Tenggara di tahun 2008 itu pun sangat bersejarah karena melahirkan juara baru.

Vietnam berhasil lolos ke babak semi-final setelah lolos dari grup B sebagai runner-up di bawah tuan rumah Thailand.

Di semi-final Vietnam tampil mengejutkan setelah sukses menaklukkan Singapura dengan agegat gol 1-0. Saat itu Singapura lebih diunggulkan karena pada leg pertama di kandang Vietnam kedua tim bermain imbang 0-0.

Namun Vietnam mampu memupuskan target Singapura yang berpeluang meraih gelar juara keempatnya, atau yang ketiga secara beruntun lewat gol tunggal Nguyen Quang Hai saat laga yang berlangsung di National Stadium Singapura memasuki menit ke-74.

Vietnam pun melaju ke partai puncak dan berhadapan dengan lawan yang telah menaklukkan mereka 2-0 di fase grup, Thailand.

Thailand melaju ke final setelah sukses unggul agregat gol 3-1 atas Indonesia.

Vietnam kembali menciptakan kejutan di laga final ketika mampu mengalahkan Thailand 2-1 pada leg pertama di Stadion Rajamangala. Nguyen Vu Phong dan Le Cong Vinh sukses membuat Vietnam unggul. Sementara gol Thailand dicetak Ronnachai Rangsiyo.

Kemenangan tandang itu membuat tim asuhan pelatih asal Portugal Henrique Calisto tersebut optimistis menghadapi leg kedua.

Cong Vinh sukses kembali mencetak gol dan menjadi bintang Vietnam dalam laga leg kedua yang berlangsung di Stadion My Dinh. Dalam laga yang berlangsung dramatis itu, penyerang berusia 22 tahun tersebut mencetak gol penyeimbang lewat sundulannya di masa injury time setelah Thailand sempat unggul di menit ke-21 melalui gol Teerasil Dangda.

Vietnam pun untuk pertama kalinya sukses mengangkat trofi Piala AFF setelah unggul agregat gol 3-2.

HAL LAIN YANG PERLU DIKETAHUI

Selain gelar juara, Vietnam juga mendapat penghargaan lain dengan terpilihnya sang kiper Duong Hong Son sebagai pemain terbaik di ajang AFF Suzuki Cup 2008.

Sementara itu pencetak gol terbanyak disabet tiga pemain, yakni Budi Sudarsono, Agu Casmir, dan Dangda, dengan masing-masing mencatatkan empat gol.

Published by:

Dari Ronaldo untuk Anak-anak Korban Perang di Aleppo: Jangan Menyerah!

Pemain Real Madrid Cristiano Ronaldo memberikan dukungan moril pada anak-anak korban perang di Suriah, khususnya di Aleppo. Selain itu, pemain asal Portugal tersebut juga menyalurkan sumbangan suka rela untuk mereka.

Sudah hampir empat tahun ini perang antara pemberontak dan rezim penguasa Suriah berlangsung. Akhir-akhir ini perang semakin brutal di mana rumah sakit dan puluhan ribu tempat tinggal rata dengan tanah akibat bom-bom yang dijatuhkan dari udara. Yang paling menderita dalam peperangan seperti ini tentu saja warga sipil, khususnya anak-anak.

Dukungan dari penjuru dunia pun mengalir untuk membantu warga di sana, tak terkecuali dari Ronaldo yang baru saja dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia 2016.

“Ini untuk anak-anak di Suriah. Kami tahu kalian sangat menderita. Saya adalah pemain sangat terkenal, tapi kalianlah pahlawan. Jangan hilang harapan. Dunia bersama kalian. Kami peduli. Saya bersama kalian,” kata Ronaldo

Organisasi kemanusiaan Save the Children mengungkapkan Ronaldo akan menyalurkan bantuan yang akan digunakan untuk pengadaan makanan, pakaian, obat untuk keluarga yang tinggal di Aleppo dan para korban lainnya.

“Sumbangan suka rela dari Cristiano Ronaldo akan membantu kami untuk mendukung anak-anak Aleppo dan seluruh Suriah, yang mengalami penderitaan anak kecil yang tak seharusnya terjadi dalam hidup mereka,” kata Direktur Save the Children, Nick Finney.

Published by:

Semua Lawan Keder, Klub Portugal Ini Menang WO 11 Kali Beruntun!

Sebuah catatan mencengangkan ditorehkan klub Portugal, Canelas 2010 yang menjadi pemuncak klasemen kompetisi kasta keempat dengan rekor kemenangan beruntun di 11 laga terakhir mereka.

Uniknya, 11 kemenangan ini diraih dengan skor identik 3-0. Rupanya, lawan-lawan Canelas lebih memilih untuk kalah tanpa bertanding alias WO karena takut akan menjadi korban permainan kasar yang diperagakan Canelas.

Dilansir ESPN, Canelas tak terkalahkan di musim ini. Dari 17 jornada yang sudah berjalan, klub yang baru berdiri enam tahun tersebut sukses memenangi 16 laga dan sekali meraih hasil imbang.

Meski demikian, rekor ini terkesan janggal karena 12 dari 13 tim lainnya di kompetisi ini lebih memilih membayar denda 750 euro (lebih dari 10 juta rupiah) daripada harus menerima tendangan hingga pukulan pemain Canelas.

Di skuat Canelas terdapat empat anggota suporter garis keras klub raksasa Porto. Kapten mereka, Fernando Madureira merupakan pemimpin dari kelompok ultras ‘Super Dragons’.

Jika Canelas menjuarai kompetisi musim ini, mereka akan masuk ke babak play-off untuk memperebutkan jatah promosi ke kompetisi kasta ketiga dan bisa bermain di ajang Taca de Portugal sekaligus berpeluang untuk bertemu Porto.

Published by:

Sejarah Hari Ini (21 Desember): Samuel Eto’o Ukir Rekor Pemain Terbaik Afrika

Afrika merupakan satu teritori di bumi yang mampu hasilkan begitu banyak permata mahal di dunia sepakbola. Anda sebagai pecinta sepakbola sejati tentu tak perlu berpikir keras untuk sebutkan sederet pesepakbola terbaik dari Benua Hitam.

Karenanya sulit untuk menunjuk satu saja yang terbaik di antara mereka. Meski begitu, nama pesepakbola asal Kamerun, Samuel Eto’o, tampaknya tepat untuk mewakili kebesaran bakat sepakbola yang dimiliki Afrika.

Salah satu bukti paling tegas hadir tepat enam tahun silam, tatkala Eto’o terpilih sebagai pemain terbaik Afrika untuk kali keempat!

INI MOMEN PENTING KARENA…

Eto’o sudah mencuat di jagat sepakbola dunia, sejak usianya masih 16 tahun. Diakuisisi Real Madrid untuk masuk ke akademinya pada 1997, dirinya kemudian tercatat sebagai pemain termuda di Piala Dunia 1998 bersama timnas Kamerun.

Walau petualangannya di Santiago Bernabeu tak berjalan manis, Eto’o sanggup membintang bersama klub medioker, Real Mallorca. Puncak karier pun diraihnya, tatkala Barcelona memboyongnya di musim panas 2004 lewat banderol €24 juta.

Bersama Blaugrana Eto’o mempersembahkan delapan gelar bergengsi, meliputi Copa del Rey, La Liga Spanyol, sampai Liga Champions. Lima musim mengabdi, sahabat baik Ronaldonho itu jadi mesin gol klub pujaan Catalan lewat torehan 129 gol dari 201 penampilan.

Afrika pun mengganjarnya dengan jadikan Eto’o sebagai figur pertama yang sanggup meraih hat-trick pemain terbaik Benua Hitam. Berturut-turut Pantera Negra meraihnya sejak 2003 hingga 2005.

Eto’o jadi pemain pertama dan satu-satunya yang raih empat penghargaan pemain terbaik Afrika

Hijrah ke Inter sebagai paket dari transfer Zlatan Ibrahimovic pada musim panas 2010, kedatangan Eto’o ke Appiano Gentile diselimuti rasa pesimistis. Meski baru saja antarkan Barca gapai treble winners dan melalui musim tertajamnya, ia dinilai sudah habis.

Usia Eto’o yang sudah menginjak kepala tiga jadi alasan utamanya. Namun publik ternyata salah besar. Meski hanya mencetak 16 gol dari 48 penampilannya di musim perdana, dirinya jadi sosok krusial keberhasilan La Beneamata ukir sejarah dengan raih treble winners.

Ya, treble winners untuk dua musim beruntun dan sepanjang sejarah sepakbola hanya Eto’o yang bisa melakukannya. Performa fantastis tersebut sukses mengantarkannya kembali terpilih sebagai pemain terbaik Afrika untuk kali keempat!

Penghargaan yang didapat pada 21 Desember 2010 itu sekaligus menahbiskan Eto’o sebagai pemain pertama dan satu-satunya hingga kini, yang mampu empat kali gondol trofi pemain terbaik Afrika.

HAL LAIN YANG PERLU DIKETAHUI

Meski jadi raja pemain terbaik Afrika, Eto’o yang kini berkarier di klub Turki, Antalyaspor, bukanlah pemain yang paling sering naik podium penghargaan prestise tersebut.

Tercatat sudah delapan kali Eto’o naik podium, dari empat gelarnya. Pertama terjadi kala usianya masih 19 tahun pada 2000 dan terakhir pada 2010 di mana itu jadi raihan gelar pamungkasnya.

Angka menakjubkan tersebut ternyata masih kalah dari legenda Chelsea dan Pantai Gading, Didier Drogba, yang sudah sembilan kali naik podium. Sayangnya Drogbazooka cuma dua kali jadi pemenang.

Published by: